Melihat layar putih kosong dengan tulisan “500 Internal Server Error” adalah mimpi buruk bagi setiap pemilik website. Tidak ada penjelasan spesifik, tidak ada petunjuk plugin mana yang rusak, hanya pesan dingin dari server bahwa “sesuatu telah salah”.
Jangan panik. Sebagai Senior Technical Writer, saya akan memandu Anda membedah masalah ini. Error 500 sebenarnya adalah cara server berkata, “Saya bingung.” Server tidak bisa memproses permintaan, biasanya karena konfigurasi file yang korup, konflik plugin, atau kehabisan memori.
Panduan ini akan membawa Anda melalui langkah-langkah diagnosa dan perbaikan dari yang paling ringan hingga level teknis mendalam, tanpa perlu mencari tutorial video tambahan.
Persiapan Tempur
Sebelum kita mulai mengutak-atik “mesin” website Anda, pastikan Anda memiliki akses ke “ruang mesin” tersebut. Error 500 seringkali membuat Anda tidak bisa masuk ke Dashboard Admin WordPress (wp-admin), jadi kita akan bekerja lewat jalur belakang.
Anda membutuhkan:
- Akses cPanel atau FTP Client (seperti FileZilla).
- Keberanian untuk mengedit file konfigurasi (jangan khawatir, kita akan backup dulu).
Langkah 1: Memperbaiki File .htaccess yang Korup
Ini adalah penyebab paling umum (90% kasus). File .htaccess mengatur bagaimana server menangani permalink dan redirect. Jika file ini rusak (misalnya karena instalasi plugin baru), server akan mogok.
Cara Memperbaikinya:
- Login ke cPanel hosting Anda.
- Buka menu File Manager.
- Masuk ke folder
public_html(atau folder tempat domain Anda berada). - Cari file bernama
.htaccess.- Catatan: Jika tidak terlihat, klik “Settings” di pojok kanan atas dan centang “Show Hidden Files (dotfiles)”.
- Klik kanan pada file
.htaccessdan pilih Rename. Ubah namanya menjadi.htaccess_backup. Ini akan menonaktifkan file yang rusak tersebut. - Coba buka website Anda sekarang. Jika website bisa diakses, selamat! Masalahnya ada di file tersebut.
Membuat File .htaccess Baru:
Setelah website bisa diakses, Anda perlu membuat file .htaccess baru yang bersih agar struktur link website kembali normal.
- Di File Manager, klik + File di pojok kiri atas.
- Beri nama
.htaccess(jangan lupa titik di depan). - Klik kanan file baru tersebut dan pilih Edit.
- Masukkan kode standar WordPress berikut ini secara lengkap:
Apache
# BEGIN WordPress
RewriteEngine On
RewriteRule .* - [E=HTTP_AUTHORIZATION:%{HTTP:Authorization}]
RewriteBase /
RewriteRule ^index\.php$ - [L]
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-f
RewriteCond %{REQUEST_FILENAME} !-d
RewriteRule . /index.php [L]
# END WordPress
- Simpan perubahan (Save Changes). Masalah selesai.
Langkah 2: Menaikkan Batas Memori PHP (PHP Memory Limit)
Terkadang, website Anda mengalami error karena kehabisan “tenaga” (RAM) saat mencoba memuat script yang berat. Kita perlu memberitahu WordPress bahwa ia boleh menggunakan memori lebih banyak.
Cara Konfigurasi:
- Masih di File Manager dalam folder
public_html. - Cari file bernama
wp-config.php. - Klik kanan dan pilih Edit.
- Cari baris yang bertuliskan
/* That's all, stop editing! Happy publishing. */. - Tepat di atas baris tersebut, tempelkan kode berikut ini:
PHP
define( 'WP_MEMORY_LIMIT', '256M' );
- Simpan perubahan. Kode ini menginstruksikan server untuk mengalokasikan memori hingga 256MB untuk proses PHP WordPress Anda. Refresh website Anda untuk melihat hasilnya.
Langkah 3: Mendeteksi Konflik Plugin
Jika langkah 1 dan 2 gagal, kemungkinan besar ada plugin yang “berkelahi” satu sama lain atau tidak kompatibel dengan versi WordPress Anda. Karena Anda tidak bisa masuk dashboard, kita akan mematikan paksa semua plugin secara manual.
Prosedur Deaktivasi Manual:
- Buka File Manager >
public_html>wp-content. - Cari folder bernama
plugins. - Klik kanan folder tersebut dan pilih Rename.
- Ubah namanya menjadi
plugins_deactivated.
Logika Teknis: Dengan mengubah nama folder, WordPress tidak akan bisa menemukan file plugin apapun, sehingga sistem akan otomatis menonaktifkan semua plugin saat dimuat.
- Coba akses website Anda.
- Jika Website Sembuh: Berarti salah satu plugin adalah pelakunya.
- Langkah Selanjutnya:
- Kembalikan nama folder menjadi
plugins. - Masuk ke dalamnya, lalu rename folder plugin satu per satu (misal:
elementorjadielementor_off) sambil mengecek website setiap kali rename. - Plugin yang saat di-rename membuat website Anda normal kembali adalah penyebab errornya. Hapus plugin tersebut.
- Kembalikan nama folder menjadi
Langkah 4: Mengaktifkan Mode Debugging (Pencarian Jejak)
Jika semua cara di atas masih buntu, kita harus berhenti menebak dan meminta WordPress memberikan laporan error yang spesifik. Kita akan menggunakan fitur WP_DEBUG.
- Buka kembali file
wp-config.phpmelalui File Manager. - Cari baris kode:
define( 'WP_DEBUG', false );. - Hapus baris tersebut (atau ubah) menjadi blok kode berikut untuk mencatat error ke dalam file log:
PHP
// Mengaktifkan mode debug
define( 'WP_DEBUG', true );
// Mencatat error ke file /wp-content/debug.log
define( 'WP_DEBUG_LOG', true );
// Mencegah error tampil di layar pengunjung
define( 'WP_DEBUG_DISPLAY', false );
- Simpan file.
- Refresh website Anda (website akan tetap error).
- Sekarang, kembali ke File Manager, masuk ke folder
wp-content. - Anda akan melihat file baru bernama
debug.log. - Buka/View file tersebut. Di baris-baris terakhir, Anda akan melihat pesan error spesifik, contohnya:PHP Fatal error: … inside /public_html/wp-content/themes/nama-tema/functions.php on line 122Ini memberitahu Anda bahwa masalahnya ada pada Tema, tepatnya di file
functions.phpbaris 122.
Solusi Jika Error (Troubleshooting Tambahan)
Terkadang masalahnya bukan pada WordPress itu sendiri, melainkan pada lingkungan server.
1. Masalah Izin File (File Permissions)
WordPress sangat ketat soal keamanan. Jika izin file salah, server akan memblokir akses (Error 500 atau 403).
- Pastikan folder memiliki izin 755.
- Pastikan file memiliki izin 644.
- Di cPanel, Anda bisa melihat kolom “Permissions”. Klik kanan file/folder dan pilih “Change Permissions” jika angkanya salah.
2. Versi PHP Tidak Kompatibel
Plugin modern mungkin membutuhkan PHP versi terbaru, atau plugin tua membutuhkan PHP versi lama.
- Cari menu “Select PHP Version” atau “MultiPHP Manager” di cPanel.
- Coba ubah versi PHP Anda. Jika sekarang memakai 8.1, coba turunkan ke 7.4. Jika memakai 7.3, coba naikkan ke 8.0.
Kesimpulan
Error 500 Internal Server Error bukanlah akhir dari website Anda. Dalam mayoritas kasus yang saya tangani, masalah ini terselesaikan hanya dengan membuat ulang file .htaccess atau menaikkan WP_MEMORY_LIMIT. Kunci utamanya adalah melakukan diagnosa satu per satu secara terstruktur tanpa mengubah banyak hal sekaligus.